Bismillah
Silaturrahim hari ini subhanallah.. pembelajaran baru untukku
setiap manusia memiliki kelemahan
Search
Kamis, 14 Juni 2012
Hari itu Tiba Juga ^_^ ..
Bissmillaahirrahmaanirrahiim
Setelah beberapa bulan tidak ngpost, setelah sidang bulan Februari lalu lama tidak buka blog lagi, hmmm... 4 bulan sudah rasanya rindu untuk menulis meski masih ngaco hehe ....
3 hari yang lalu, alhamdulillah (segala puji hanya untumu Yaa Rabb wisuda didampingi orang tua sudah terlaksana, yaah... tepatnya tanggal 9 Februari 2012 .. hari itu berkumpul bersama teman2 wisudawan / wusudawati gelombang II, walaupun gel II tetap syukuri ^_^
Ketika malam hari tgl 8 feb puyeng-puyeng mencari dan dicarikan kreasi jilbab yang sesuai oleh saudari2ku yang perhatian, rariweuh hee.., jilbab yang modis tapi tidak terlalu rame dan tetap lebar menutupi dada ternyata tidak mudah fyuuh :usap jidat . Saya putuskan untuk jilbab biarkan saya pasang sendiri.
Alhamdulillah.... ahaaa akhirnya terinspirasi dari jilbab teman ketika datang ke acara walimahan sahabat tempo hari ... dan subuhnya langsung pakai .. jeng..jeng
O iya sebelumnya sayapun menyesuaikan untuk acara yang tidak biasa ini. Penampilan pun menjadi tidak biasa hee.. pake kebaya, Alhamdulillah ada sodara yang pinter menata bedak di pipi :bisa tawar menawar g mau ini g mau itu hehe..... :intinya g mau berlebiih (khawatir tabaruj sebetulnya) ^.^
Bagi sahabat2ku yang tidak dapat ikut wisuda bersama karena ada kendala lain hal, insyaAllah kita kan dipertemukan kembali di t4 yang lebih berkah insyaAllah n_n
Jadikan acara yang tidak biasa ini merupakan awal semangat baru yang tidak biasa,
setelah flashback baca kembali post sebelumnya... haru masih terasa perjuangan itu ...
meski belum cumlaude insyaAllah di S2 yang akan datang saya bisa maju kedepan Aamiin ^_^ ... ngarep hehe..
Yang terpenting optimalkan, insyaAllah hasil itu sesuai dengan usahamu.
Melihat senyum ceria itu, terbayar sudah ^_^
namun ini bukan akhir dari segalanya.
ada akhir pasti ada awal ... Perjuangan dimulai kembali di babak terbaru ... Jangan biarkan jatuh pada lubang yang sama. ^_^
Bissmillaahirrahmaanirrahiim
Setelah beberapa bulan tidak ngpost, setelah sidang bulan Februari lalu lama tidak buka blog lagi, hmmm... 4 bulan sudah rasanya rindu untuk menulis meski masih ngaco hehe ....
3 hari yang lalu, alhamdulillah (segala puji hanya untumu Yaa Rabb wisuda didampingi orang tua sudah terlaksana, yaah... tepatnya tanggal 9 Februari 2012 .. hari itu berkumpul bersama teman2 wisudawan / wusudawati gelombang II, walaupun gel II tetap syukuri ^_^
Ketika malam hari tgl 8 feb puyeng-puyeng mencari dan dicarikan kreasi jilbab yang sesuai oleh saudari2ku yang perhatian, rariweuh hee.., jilbab yang modis tapi tidak terlalu rame dan tetap lebar menutupi dada ternyata tidak mudah fyuuh :usap jidat . Saya putuskan untuk jilbab biarkan saya pasang sendiri.
Alhamdulillah.... ahaaa akhirnya terinspirasi dari jilbab teman ketika datang ke acara walimahan sahabat tempo hari ... dan subuhnya langsung pakai .. jeng..jeng
O iya sebelumnya sayapun menyesuaikan untuk acara yang tidak biasa ini. Penampilan pun menjadi tidak biasa hee.. pake kebaya, Alhamdulillah ada sodara yang pinter menata bedak di pipi :bisa tawar menawar g mau ini g mau itu hehe..... :intinya g mau berlebiih (khawatir tabaruj sebetulnya) ^.^
Bagi sahabat2ku yang tidak dapat ikut wisuda bersama karena ada kendala lain hal, insyaAllah kita kan dipertemukan kembali di t4 yang lebih berkah insyaAllah n_n
Jadikan acara yang tidak biasa ini merupakan awal semangat baru yang tidak biasa,
setelah flashback baca kembali post sebelumnya... haru masih terasa perjuangan itu ...
meski belum cumlaude insyaAllah di S2 yang akan datang saya bisa maju kedepan Aamiin ^_^ ... ngarep hehe..
Yang terpenting optimalkan, insyaAllah hasil itu sesuai dengan usahamu.
Melihat senyum ceria itu, terbayar sudah ^_^
namun ini bukan akhir dari segalanya.
ada akhir pasti ada awal ... Perjuangan dimulai kembali di babak terbaru ... Jangan biarkan jatuh pada lubang yang sama. ^_^
Bissmillaahirrahmaanirrahiim
Selasa, 21 Februari 2012
Alhamdulillah Sidaaang ^,^
Bismillah
Akhirnya hari itu tiba juga ^_^ hari yang di nantikan .... setelah perjuangan ....
Sidang akhirnyaaa .... 18 februari 2012
Akhirnya hari itu tiba juga ^_^ hari yang di nantikan .... setelah perjuangan ....
Sidang akhirnyaaa .... 18 februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Masa Gemilang ... lagu anak
Masa Gemilang
Alam riang ria
sambut mentari dipagi hari
Unggas lincah gembira
Dendangkan lagu irama hati
Kuncup kuncup bunga berseri
Daun-daun segar menghijau
Bulir-bulir padi menghimbau
Bak lautan tak bertepi
Hati riang gembira
Menjelang masa gemilang
Alam riang ria
sambut mentari dipagi hari
Unggas lincah gembira
Dendangkan lagu irama hati
Kuncup kuncup bunga berseri
Daun-daun segar menghijau
Bulir-bulir padi menghimbau
Bak lautan tak bertepi
Hati riang gembira
Menjelang masa gemilang
Siapa ya penyanyinya ... ??? lagi seneng lagu ini ... anak-anak banget
ketika nyari ada di kaskus .. he ... alhamdulillah
versi-2011-theme song--ensiklopedi anak nusantara-Kompas.TV.
http://www.kompas.tv/uploads/ensiklopedi_anak.zip
http://www.kompas.tv/uploads/ensiklopedi_anak.zip
Senin, 13 Februari 2012
Arti nilai E (excellence)
by Prof Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI) http://id.wikipedia.org/wiki/ Rhenald_Kasali
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Sabtu, 04 Februari 2012
Sisa 2 hari tuntas, harus semua 0.o
Bismillah
Yaa Rabb berikan kekuatan untuk mengerjakan tugas-tugas ini...
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH
(TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH)
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5]
Yaa Rabb berikan kekuatan untuk mengerjakan tugas-tugas ini...
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH
(TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH)
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5]
Langganan:
Postingan (Atom)